Harimau adalah tank medium (Medium Battle Tank) yang dikembangkan secara bersama antara FNSS Defence Systems dari Turki dan PT Pindad (Persero) Indonesia. Platform ini dirancang untuk mengisi kebutuhan angkatan darat Indonesia akan kendaraan lapis baja berdaya tembak menengah, sekaligus menjadi produk ekspor potensial.
Identitas dan Cakupan Profil
Nama resmi: Harimau. Platform termasuk dalam keluarga tank medium dan tidak memiliki sub‑varian yang dipublikasikan secara terpisah. Pengembang utama adalah FNSS Defence Systems (Turki) bekerja sama dengan PT Pindad (Indonesia) dengan peran produksi bersama di kedua negara.
Peran utama tank ini adalah tempur darat serta dukungan tembakan langsung (direct fire support) untuk infanteri mekanis.
Varian dan Konfigurasi
Sejauh ini hanya satu varian yang diproduksi secara resmi, yaitu Harimau Medium Battle Tank. Tidak ada varian bersenjata berat atau ringan yang diumumkan dalam literatur terbuka.
Spesifikasi Bersumber
| Parameter | Nilai | Satuan | Kondisi / Varian | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| Berat tempur | 30–35 | ton | – | [1] |
| Panjang (hull) | 6,952 | m | – | [1] |
| Panjang (termasuk laras senjata) | 9,105 | m | – | [1] |
| Lebar | 3,36 | m | – | [1] |
| Tinggi (atap kubah) | 2,456 | m | – | [1] |
| Kru | 3 | orang | Komandan, penembak, pengemudi | [1] |
| Perisai (STANAG 4569) | Level 4 (bodi), modular hingga Level 5 | – | – | [1] |
| Senjata utama | Meriam Cockerill 105 mm | – | – | [1] |
| Senjata tambahan | Senapan mesin 7,62 mm | – | – | [1] |
| Mesin | Caterpillar C13 diesel | hp | 711 hp | [1] |
| Power‑to‑weight ratio | 22,2 | hp/ton | – | [1] |
| Power‑to‑weight ratio (laporan lain) | 24 | hp/ton | – | [2] |
| Kecepatan maksimum | >70 | km/jam | – | [2] |
| Suspensi | Bar torsion | – | – | [1] |
| Biaya produksi per unit | US$7 juta | – | ≈ Rp 108,98 miliar | [1] |
| Tahun desain | 2015 | – | – | [1] |
| Produksi | 2017–sekarang | – | 18 unit (rencana 412) | [1] |
Peran dan Cara Membaca Karakteristiknya
Desain Harimau menyeimbangkan mobilitas tinggi (rasio tenaga‑berat di atas 20 hp/ton dan kecepatan lebih dari 70 km/jam) dengan perlindungan yang memadai (STANAG 4569 level 4, dapat ditingkatkan ke level 5). Meriam 105 mm memungkinkan tembakan anti‑tank serta dukungan tembakan artileri ringan, cocok untuk medan yang beragam di kepulauan Indonesia. Kapasitas kru tiga orang meminimalkan beban personel, sementara ruang internal cukup untuk peralatan komunikasi dan sistem kendali tembak modern.
Sejarah Pengembangan dan Pengujian
- 2015: Konsep awal dan perancangan dimulai oleh FNSS dan PT Pindad.[1][2]
- April 2018: Penyelesaian prototipe pertama dan pemberian sertifikasi uji ledak, uji jelajah, serta uji tembak oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD.[2]
- 2017–sekarang: Produksi berkelanjutan di pabrik PT Pindad, dengan 18 unit selesai diproduksi hingga 2024.[1]
- Rencana jangka panjang: Pengadaan total 412 unit untuk melengkapi batalyon kavaleri mekanis TNI AD.[1]
Konteks Indonesia dan Pengadaan
Harimau merupakan satu‑satunya tank medium yang dirancang secara domestik bersama mitra asing, menandai langkah kemandirian alutsista Indonesia. Hingga akhir 2024, TNI AD mengoperasikan 18 unit Harimau dalam Batalyon Kavaleri 13. Pemerintah menargetkan ekspor ke negara‑negara yang membutuhkan kendaraan lapis baja menengah, meski belum ada laporan resmi tentang penjualan luar negeri.
Keterbatasan Data
Beberapa data teknis, seperti jangkauan operasional, kapasitas bahan bakar, atau detail sistem elektronik (radar, fire‑control), tidak dipublikasikan dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Angka kecepatan maksimum dan rasio tenaga‑berat terdapat perbedaan antara sumber Wikipedia ([1]) dan Kompas ([2]); keduanya dicantumkan dengan catatan sumber masing‑masing.



