Kelas Martadinata (juga disebut Martadinata‑class frigate) adalah kelas frigat berukuran menengah yang dibangun melalui kerja sama antara PT PAL Indonesia dan Damen Schelde Naval Shipbuilding (Belanda). Kelas ini menempati posisi antara kapal korvet dan destruktor, dirancang untuk peran anti‑permukaan, anti‑kapal selam, serta pertahanan udara pada zona operasi laut Indonesia.
Identitas dan Cakupan Profil
Nama resmi kelas: Martadinata‑class frigate. Setiap kapal dalam kelas ini termasuk dalam tipe Perusak Kawal Rudal (PKR) dan diklasifikasikan sebagai guided‑missile frigate. Produsen utama: Damen Schelde Naval Shipbuilding – PT PAL Indonesia.[1] Operator tunggal: Angkatan Laut Republik Indonesia (TNI‑AL).[4] Kelas ini merupakan penerus Kelas Ahmad Yani dan akan digantikan oleh generasi berikutnya, Kelas Merah Putih.[1]
Varian dan Konfigurasi
Kelas Martadinata direncanakan enam unit, namun hanya dua unit yang selesai dibangun dan masuk layanan: KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332). Kedua kapal memiliki konfigurasi yang identik, berbasiskan desain SIGMA 10514 (panjang 105 m, lebar 14 m).[2] Unit pertama diluncurkan pada 2016 dan diserahkan pada 7 April 2017 di Dermaga Pondok Dayung TNI‑AL, Tanjung Priok.[3] Unit kedua diserahkan pada awal 2018.[2]
Spesifikasi Bersumber
| Parameter | Nilai | Satuan | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Displacement (standard) | 2 365 | ton | Berat kosong; data dari [1] dan [4] |
| Displacement (full load) | 2 946 | ton | Full load; sumber [4] |
| Panjang | 105,11 | m | Ukuran keseluruhan; [1][2][4] |
| Lebar (Beam) | 14,02 | m | [1][2][4] |
| Draught | 3,75 | m | [1][4] |
| Propulsi | Combined Diesel‑or‑Electric (CODOE) | 2×10 000 kW diesel, 2×1 300 kW motor listrik; [1][4] | |
| Kecepatan maksimum | 28 | kn | Dengan diesel full power; [4] |
| Kecepatan pada mode listrik | 15 | kn | [4] |
| Jarak tempuh | 5 000 | nmi | Pada 14 kn; [4] |
| Endurance | 20 | hari | [4] |
| Komplement | 122 | orang | Awak standar; [2][4] |
| Armada kecil (RHIB) | 2 | unit | Rigid‑Hull Inflatable Boat; [4] |
| Sistem senjata utama | RIM‑162 Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM) + Exocet MM40 Block 3 | Data umum kelas SIGMA 10514 (tidak dirinci dalam sumber); belum terverifikasi secara spesifik. | |
| Radar utama | Thales SMART‑S Mk2 (atau setara) | Informasi umum kelas; tidak eksplisit di sumber yang ada. |
Peran dan Cara Membaca Karakteristiknya
Desain CODOE memungkinkan kapal beroperasi secara senyap pada mode listrik, meningkatkan kemampuan anti‑kapal selam (ASW) pada kecepatan rendah serta mengurangi jejak termal. Kecepatan 28 kn memastikan kemampuan mengejar atau menghindari kapal permukaan cepat, sementara jangkauan 5 000 nmi mendukung patroli jauh di wilayah kepulauan Indonesia yang luas.
Sejarah Pengembangan dan Penggunaan
- 2010: Kementerian Pertahanan Indonesia menandatangani kontrak awal dengan Damen untuk varian SIGMA 10514.
- 2014–2017: Tahap pembangunan di galangan PT PAL, Tanjung Priok.
- 6 Mei 2016: KRI Raden Eddy Martadinata diluncurkan.
- 7 April 2017: Kapal pertama diserahkan secara resmi dan dioperasikan oleh TNI‑AL.[3]
- Awal 2018: KRI I Gusti Ngurah Rai diserahkan dan masuk layanan.[2]
- 2024: Kedua kapal tetap aktif, sementara dua unit tambahan dibatalkan karena pertimbangan anggaran.[4]
Konteks Indonesia dan Operator
Kedua frigat Martadinata menjadi bagian penting dari upaya modernisasi alutsista laut Indonesia, menggantikan kapal‑kapal tua kelas Ahmad Yani. Dengan kapasitas awak 122 orang, kapal ini dapat menampung tim operasi ASW, tim penerbang helikopter kecil, serta fasilitas perawatan medis dasar. Pengoperasian kapal sepenuhnya berada di bawah komando TNI‑AL, tanpa keterlibatan militer asing setelah penyerahan.
Pengadaan dan Perubahan Status
| Tahap | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Rencana awal | 6 unit | Ditentukan dalam kontrak 2010. |
| Diselesaikan | 2 unit | KRI Raden Eddy Martadinata (331) & KRI I Gusti Ngurah Rai (332). |
| Dibatalkan | 2 unit | Pengurangan anggaran; dua unit sisanya masih dalam status perencanaan. |
| Biaya (hull only) | US$222 juta | Menurut data produsen; total US$400 juta untuk 2 unit (2012).[1] |
Keterbatasan Data
Beberapa detail senjata dan sistem sensor (misalnya varian radar, paket elektronik perang) tidak diuraikan secara terbuka dalam sumber yang dapat diakses publik. Angka displacement penuh dan beberapa biaya dapat berubah tergantung pada konfigurasi akhir yang dipilih oleh TNI‑AL.



